Tengkleng sendiri sebenarnya adalah sejenis masakan yang memiliki
kemiripan dengan gulai, hanya saja tengkleng bisa dibilang minim atau
bahkan tanpa penggunaan santan. Hmmm, dari aroma yang menyebar warung
ini, rasanya sudah tidak sabar untuk segera menyantapnya. Dan penantian
saya pun tak berlangsung lama, satu mangkuk tengkleng panas datang dan
tersaji di hadapan saya. Hanya dari mencium aroma rempahnya, saya sudah
terbayang kelezatannya.
Alkisah,
pada zaman Belanda, penduduk pribumi disuruh memasak, sedangkan para
pembesar Belanda tinggal makan masakan berdaging yang enak-enak (daging
mahal kali ya jaman segitu). Rakyat jelata tinggal kebagian tulang dan
jeroan saja. Namun, berbekal kreatifitas, dulu
mengambil inisiatif untuk memasak tulang dan jeroan kambing dan diolah
sedemikian rupa hingga sekarang menjadi masakan untuk semua kalangan,
bahkan menjadi masakan di hotel berbintang lima.
Terbuat dari 18 macam rempah-rempah dan rasanya seperti gulai namun lebih menggigit lidah, kuahnya juga lebih encer.
Memakannya
terkesan agak 'barbarik' karena harus berjuang keras menyantap
sisa-sisa daging yang menempel pada tulang-tulang. Mungkin karena suara
sentuhan tulang dan piring inilah yang kemudian menjadi asal muasal nama
"tengkleng".
Jangan heran bila terkadang Anda bisa menemukan
bagian-bagian kambing yang jarang dimakan seperti mata, lidah yang
menempel di rahang, pipi, jeroan, dan bermacam-macam bagian tubuh
kambing lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar