Minggu, 23 November 2014

Tengkleng sendiri sebenarnya adalah sejenis masakan yang memiliki kemiripan dengan gulai, hanya saja tengkleng bisa dibilang minim atau bahkan tanpa penggunaan santan. Hmmm, dari aroma yang menyebar warung ini, rasanya sudah tidak sabar untuk segera menyantapnya.  Dan penantian saya pun tak berlangsung lama, satu mangkuk tengkleng panas datang dan tersaji di hadapan saya. Hanya dari mencium aroma rempahnya, saya sudah terbayang kelezatannya.

Alkisah, pada zaman Belanda, penduduk pribumi disuruh memasak, sedangkan para pembesar Belanda tinggal makan masakan berdaging yang enak-enak (daging mahal kali ya jaman segitu). Rakyat jelata tinggal kebagian tulang dan jeroan saja. Namun, berbekal kreatifitas, dulu mengambil inisiatif untuk memasak tulang dan jeroan kambing dan diolah sedemikian rupa hingga sekarang menjadi masakan untuk semua kalangan, bahkan menjadi masakan di hotel berbintang lima.
Terbuat dari 18 macam rempah-rempah dan rasanya seperti gulai namun lebih menggigit lidah, kuahnya juga lebih encer.
Memakannya terkesan agak 'barbarik' karena harus berjuang keras menyantap sisa-sisa daging yang menempel pada tulang-tulang. Mungkin karena suara sentuhan tulang dan piring inilah yang kemudian menjadi asal muasal nama "tengkleng".
Jangan heran bila terkadang Anda bisa menemukan bagian-bagian kambing yang jarang dimakan seperti mata, lidah yang menempel di rahang, pipi, jeroan, dan bermacam-macam bagian tubuh kambing lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar